Analisis Nilai Karakter Binta Novel Kata
Analisis Nilai Karakter Binta dalam Novel “Kata”
karya Rintik Sedu dengan Kajian
Psikologi Sastra
Alfin Fatiha Rahmah (183151097)
Jurusan
Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Adab dan Bahasa
IAIN
Surakarta
Abstract
Literary psychology is a study of
literature that studies the psychology in humans that describes behavior in
real life. The main character's value contained in the novel is to describe
people who are difficult to get along with and look cool. From the character's
value the researcher used the word novel by Rintik Sedu, so that the title was
made, "Analysis of the Character Value of Love in the word Novel Work
Rentang Sedu with Literary Psychology Study. The purpose of this study was to
analyze the value of the main characters in the novel. The research method used
is a qualitative descriptive research method. Namely research by means of data
collection techniques through reading and recording the results to be examined.
The results of the study are to conclude that the novel has an implementation
of the character's character personality values.
Keywords: Psychology, Personality and
Character Value
Abstark
Psikologi
sastra merupakan kajian sastra yang mempelajari tentang kejiwaan dalam diri
manusia yang menggambarkan tingkah laku di kehidupan nyata. Nilai karakter
tokoh utama yang terdapat dalam novel yaitu menggambarkan orang yang sulit
diajak bergaul dan terlihat cuek. Dari nilai karakter tersebut peneliti
menggunakan novel Kata karya Rintik Sedu, sehingga dibuat judul yaitu,
”Analisis Nilai Karakter Binta dalam Novel kata Karya Rintik Sedu dengan
Kajian Psikologi Sastra. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis nilai
karakter tokoh utama dalam novel tersebut. Metode penelitian yang digunakan
adalah metode penelitian deskritif kualitatif. Yaitu penelitian dengan cara
teknik mengumpulkan data melalui membaca dan mencatat hasil yang akan diteliti.
Hasil penelitian adalah untuk menyimpulkan bahwa novel tersebut memiliki
implementasi nilai kepribadian kaarkter tokoh.
Kata Kunci : Psikologi, Kepribadian dan
Nilai Karakter
PENDAHULUAN
Sastra
merupakan kajian karya untuk memberikan suatu tulisan yang dapat dijadikan
sebagai sebuah karya sastra dan dinikmati baik kalangan sosial masyarakat.
Sastra berwujud seperti keindahan hasil karya seseorang yang dapat dijadikan
gambaran dalam kehidupan kenyataan sosial. Menurut Welek dan Werren menyatakan
bahwa sastra merupakan sebuah karya seni hasil dari ciptaan seseorang dalam
peristiwa pengalaman hidup dan terjadi di dalam kehidupan masyarakat sebagai
bahasa untuk menarik minat bacaan seseorang.
Menurut
Semi (1988:8), sastra adalah suatu karya hasil kerja kreativitas dari manusia
dengan menggunakan bahasa dalam kehidupan nyata. Sastra terjadi dari
pengalaman, perasaan, gagasan, ide, dan pemikiran dari manusia dan dikembangkan
menjadi sebuah tulisan yang dapat dibaca oleh masyarakat dan diterapkan sebagai
sebuah karya sastra yang bermanfaat untuk khalayak umum. Karya sastra merupakan
sebuah karya yang membahas tentang masalah dalam kehidupan kenyataan sosial
dengan berbagai bentuk, gambaran maupun tulisan yang dapat menjadi sebuah
bacaan untuk dipahami, dinikmati dan dijadikan sebuah referensi.
Menurut
Sangidu (2007: 38), karya sastra merupakan suatu karya cipta yang tergambar
dalam pikiran manusia dan telah tersusun dalam sebuah bentuk baik tulisan,
bacaan dan hasilnya dapat dinikmati oleh masyarakat. Dan dijadikan sebagai
sebuah gambaran untuk menghasilkan suatu karya cipta yang bersifat imajinatif
dengan menggunakan bahasa yang memenuhi syarat seni. Perkembangan karya sastra
saat ini tidak terlepas dari kehidupan masyarakat. Menurut Damono (1983:17),
karya sastra adalah sebagai sebuah kehidupan yang sudah lama dalam perkembangan
dari generasi ke generasi. Seperti dalam karya sastra yang terbagi menjadi tiga
kesusastraan yaitu prosa, puisi dan drama. Puisi dan prosa lebih mengacu pada
sebuah perjuangan, adat istiadat, perjodohan dan kawin paksa. Drama lebih
mengacu pada percintaan. Karya sastra yang paling dominan adalah prosa, karena
isinya lebih menceritakan seperti kehidupan nyata atau isi dari gambaran
penulis yang mengarahkan pada kenyataan sosial.
Novel adalah
karya sastra yang berupa cerita fiksi yang diciptakan oleh pengarang dalam
sebuah gambaran atau tulisan seperti kehidupan nyata. Dan dapat dijadikan
sebagai sebuah imajinasi pengarang untuk dinikmati oleh pembaca.
Psikologi
sastra merupakan kajian sastra yang mengacu kepada kepribadian seseorang dalam
menggambarkan sebuah tingkah laku, pemikiran serta kejiwaan dalam dirinya. Psikologi dalam kata Yunani berasal dari psyche,
artinya jiwa, dan logos artinya ilmu. Jadi psikologi sastra
merupakan ilmu yang mempelajari tentang kejiwaan atau tingkah laku manusia
dalam kehidupan nyata (Alkinson, 1996: 7). Menurut Endaswara (2013: 96),
psikologi sastra merupakan kajian sastra yang membahas aspek kejiwaan
berhubungan dengan rasa serta konflik kehidupan masing-masing manusia.
Novel Kata
merupakan salah satu karya sastra
yang ditulis oleh Rintik Sedu dan terbit tahun 2018. Novel tersebut adalah
salah satu novel yang menampilkan berbagai watak atau perilaku tokoh dengan
berbagai konflik yang ditampikan tokoh utama yang bernama Binta dan sebagai
kisah perjalanan hidupnya. Binta Dineschara Pranadipta, menempuh kuliah di
jurusan Komunikasi yang memiliki paras cantik dibalut dengan kaca matanya. Ia
memiliki sifat cuek dan tertutup, sehingga membuat dirinya tidak memiliki
banyak teman. Cerita kehidupan Binta, berawal dari kehidupan bersama Mamanya
yang mengidap penyakit skizofrenia atau penyakit kejiwaan yang membuat si
penderita tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang ada dalam
pikirannya. Penderita skizofrenia mengalami delusi, halusinasi, banyak diam dan
melamun, dan terkadang marah atau bicara yang aneh. Binta hanya tinggal bersama
dengan mamanya, karena Ayahnya meninggalkan mereka. Namun, Binta masih
mempunyai teman yaitu Cahyo yang masih pengertian.
Kehidupan
Binta dihabiskan dengan waktu sendirinya. Namun
muncullah kehidupan di perasannya yaitu Nugraha. Nugraha yang memiliki
kotak kesabaran dalam menghadapi Binta, ketika mendekati Binta selalu ditolak.
Namun Nugraha tidak pernah menyerah. Sementara Binta masih memikirkan tentang
masa lalunya bersama Biru yang ceritanya masih mengantung tanpa ada kepastian.
Nugraha,
Binta, dan Biru melatarbelakangi sama-sama pergi. Mereka membutuhkan kata untuk
menyatakan perasaan. Binta marah melihat Nugraha bersama masa lalunya, Nug
terkejut Biru mengajak Binta hidup bersamanya dan meninggalkan Jakarta demi
pergi ke Banda Neira. Sementara itu
Nugraha mendapat beasiswa di Australia.
Novel
kata menggambarkan tokoh utama yang memiliki sifat cuek secara psikologi
keprbadian mengambarkan tentang alur cerita yang diubah dengan berbagai
konflik. Pengarang menciptkan konflik dan membuat pembaca tidak bosan dalam
meneliti masalah yang berkaitan dengan kejiwaan. Peneliti menggunakan novel kata
dengan objek penelitian kajian
psikologi sastra. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tokoh utama dalam
mendeskripsikan fakta cerita dalam novel Kata, menceritakan kepribadian tokoh utama
dan mendeskripsikan yang terjadi perubahan tokoh utama dalam novel Kata karya Rintik Sedu.
LANDASAN TEORI
Psikologi
adalah ilmu yang membahas tentang perilaku dan kejiwaan seseorang. Teori ini
menganalisis mengenai tingkah laku manusia untuk mengetahui karakter kepribadian
dalam tokoh tersebut. Walgito (2004:1) menyatakan psikologi merupakan ilmu yang
mengkaji tentang tingkah laku manusia sebagai aktivitas kehidupan sehari-hari.
Yang didasarkan dalam dua alam yaitu alam sadar dan alam tak sadar keduanya
merupakan alam yang melakukan penyesuain sesuai kejiwaan dalam diri manusia.
Psikologi
sastra merupakan karya sastra yang melihat sebagai aktivitas kejiwaan manusia. Endaswara
dalam (Ami Safitri, 2014) menyatakan psikologi sastra merupakan kajian sastra
yang dipandang sebagai aspek kejiwaan yang berhubungan dengan dalam diri
manusia. Psikologi sastra sangat penting dalam penelitian, karena membahas
mengenai perwatakan melalui karakter tokoh
dan sebagai analisis sebuah karya sastra yang dapat dijadikan referensi
dalam pengkajian.
Penelitian
yang digunakan adalah pendekatan psikologi sastra karena merupakan aspek nilai
kejiwaan manusia melalui perilaku di kehidupan sehari-hari. Psikologi sastra
dapat dianalisis yang bertujuan untuk berperan penting dalam karya sastra
dengan aspek kejiwaan melalui tokoh, unsur pengarang, atau pembacanya. Dengan
cara memusatkan nilai karaker di dalam kepribadian tokoh yang terkandung dalam
karya sastra. Jadi hubungan antara psikologi dan sastra sangat melekat dan
sebagai sebuah penelitian dalam karya sastra melalui pendekatan Psikologi
Sastra, baik langsung maupun tidak langsung karena psikologi tidak dapat
dipisahkan dengan nilai kejiwaan dalam kehidupan nyata. (Ratna, 2003:350).
Nilai
karakter merupakan nilai yang berhubungan dengan aspek kepribadian tokoh dalam
tingkah laku, kejiwaan, sosial masyarakat yang berkaitan dalam kehidupan nyata.
Nilai karakter sangat penting dalam kehidupan manusia karena merupakan petunjuk dalam bersikap maupun berperilaku
yang baik. Nilai karakter yang terdapat dalam novel ini mengisahkan karakter
tokoh utama yang memiliki sifat cuek, jutek dan jika ditanya selalu diam. Dalam
novel ini nilai karakter yang di dapat adalah penggambaran karakter tokoh utama
yang membuat pembaca berada dalam posisi tersebut.
METODE PENELITIAN
Penelitian
yang digunakan adalah metode deskritif kualitatif. Penelitian deskritif
kualitatif merupakan penelitian yang medeskripsikan nilai karakter melalui
tingkah laku, sikap dalam mengkaji sebuah karya sastra. Penulis berupaya dapat
memenuhi penggambaran novel ”Kata” karya Rintik Sedu. Dengan menjelaskan
mengenai nilai karakter tokoh tersebut.
Sumber data
yang digunakan merupakan kutipan teks, dengan cara membaca novel kemudian
mencatat bagian yang penting kemudian menganalisis novel dengan hasil
kesimpulannya.
Teknik yang
digunakan yaitu dengan cara mengumpulkan data kemudian mencatat dengan hasil
memilih kata atau kalimat yang benar sehingga dapat diperoleh dengan hasil
kajian data analisis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Psikologi
sastra merupakan kajian yang berpusat pada perilaku manusia dalam kehidupan. Psikologi
adalah ilmu yang membahas aspek kejiwaan manusia yang berkaitan dengan
kepribadian tokoh berdasarkan karakter dalam novel. Menurut Sigmund Freud
(dalam Albertine Minderpo, 2010:20-21) membagi tiga susunan kepribadian manusia
yaitu:
Id, adalah aspek kejiwaan yang terbawa sejak
lahir dan memiliki naluri keinganan yang dibawanya. Fungsi Id untuk mendapatkan
hak keinginan sesuai dengan prinsip yang dicapainya. Sehingga Id, tidak
memiliki nilai akhlak atau perilaku yang baik. Karena Id berusaha untuk
memuaskan keinginan yang tidak dapatinya.
Ego, adalah aspek kepribadian yang terjadi pada
diri manusia yang berhubungan dalam kehidupan nyata. Ego digunakan sebagai
karakter pribadi dengan adanya konflik batin dalam mendeskripsikan tingkah laku
yang baik.
Superego, adalah aspek kepribadian yang
mendefinisikan benar atau salah jika terjadinya sesuatu. Superego lebih
menekankan pada nilai-nilai dan aturan yang mengajarkan mengenai baik buruk,
perintah dan larangan yang terdapat pada norma agama.
Novel
merupakan karya sastra yang berbentuk narasi panjang, isinya berupa rangkain
cerita tentang kehidupan seseorang dalam tokoh dan menunjukkan sifat karakter
sebagai perwujudan dalam kehidupan nyata. Seperti dalam novel “Kata”
yang mengisahkan tentang tokoh utama yaitu Binta Dineschara memiliki sifat cuek
dan tidak memiliki banyak teman.
Nilai Karakter Tokoh Utama
a). Binta
(1). Cuek
“Tau nama gue dari mana?” (Kata, 2018:5).
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Binta
memiliki karakter yang cuek. Jika ada seseorang yang menyukainya ia memilih
menghindar.
(2). Keras Kepala
“Yo, kita kan udah pernah bahas ini.”(Kata,
2018:3).
“Terus? Gue harus lebih banyak ngeluarin
waktu di kampus daripada nemenin nyokap gue?”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Binta
memiliki karakter yang keras kepala, karena ia memilih menjalani kehidupannya
dengan kebahagiannya sendiri dan tanpa membebankan orang lain.
(3) Menyendiri
“Binta seringkali dijuluki ‘The Invisible
Girl’ di kampus karena saking tak terlihat, saking tidak ada yang tahu kalau
ada perempuan bernama Binta Dineschara kuliah disana. Anehnya, kelihatan, Binta
semakin tenang. Karena baginya, semakin sendirian, hidupnya akan semakin mudah
dijalani.” (Kata, 2018:8).
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Binta
lebih nyaman dengan kesendiriannya, justru itu membuat Nugraha menyukainya
karena kesederahanaan.
b).
Nugraha
(1) Sabar
“Kemana aja asal sama kamu”(Kata, 2018:92)
“Kalau kamu sudah membaca satu kertas, itu
tandanya kamu setuju dengan semua alasan yang aku buat. Dengan kata lain, kamu
harus sabar denganku”
“Binta membuka kertas itu kemudian
membacanya.”Karena Nugraha Cuma ingin buat Binta bahagia.”(Kata, 2018:104).
Kutipan tersebut menujukkan bahwa Nugraha
tetap sabar mengahadapi sikap Binta yang cuek, keras kepala. Apapun yang
Nugraha lakukan semua itu demi rasa cintanya kepada Binta. Ketika ia ke rumah
Binta dan tidak dibukakan pintu, Nugraha tetap menunggunya.
(2) Penyayang
“Sudah belum, Ta?”
“Sudah apa?”
“Menyayangiku”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Nugraha
tetap berusaha untuk bisa mendapatkan hati Binta, karena ia terlalu sayang
kepada Binta. Sampai ia megantarkan pulang, membelikan ikan untuk dipelihara
Binta, dan menyayangi mama Binta.
(3). Jiwa sosial
“Segerombolan anak kecil berlari,
mengahmpiri, memeluk Nug bersamaan. Pakaian yang tidak terlihat seperti pakaian
itu, semakin membuat mereka terlihat kumal. Nug membalas pelukan mereka, seakan
senang apabila kemeja yang ia kenakan harus ikutan kotor.”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Nugraha
memiliki jiwa sosial yang tinggi kepada yang lebih membutuhkan, ia ketika
pulang kuliah menyambangi anak-anak di pinggiran rel kereta untuk berbagi dan
mengajarkan pelajaran menggambar.
c). Biru
(1) Tidak menepati janji
“Aku tidak bisa membawamu pergi, Jani.
Tidak dengan langkahmu yang ragu, tidak dengan hatimu yang sudah tidak
bersamaku.” (Kata, 2018:388).
Biru, tidak bisa menepati janjinya untuk
bisa bersama lagi dengan Binta. Ia lebih baik memilih pergi dengan kehidupan
yang dijalaninya.
(2) Ikhlas
“Ya, memang aku tahu, sekali. Tapi kamu
juga tidak pandai berbohong, Jani, apalagi terhadapku. Kita sudah terlalu
sama-sama, terlalu mudah untukku menebak isi hatimu. Dan aku tahu, kini namaku
tak ada lagi di hatimu. “Biru.”
Biru lebih memilih pergi dari kehidupan
Binta, karena ia tidak ingin membuat Binta bersedih hati sebab kepergian Biru
yang bertahun-tahun. Ia ingin melihat Binta bahagia dengan pendamping hidupnya.
Aspek Psikologis Dalam Novel “Kata”
“Ia segera berlari, menekan tombol lift
berulang kali agar segera terbuka dan ia bisa secepat mungkin pergi dari tempat
ini. Sepasang mata indah itu, yang kata Biru merupakan tempat senja tenggelam,
tak bisa menerima apa yang harus ia lihat. Sinta mencium Nugraha. Tepat di
bibirnya. Tepat pula di mata Binta” (Kata, 2018:305).
Kutipan tersebut menujukkan jika Nugraha
tidak ada niat seperti itu, sebab ia sedang posisi tertidur, sedangkan Sinta
sedang posisi mabuk. Sehingga membuat kesalahpahaman pada Binta.
Id adalah karakter yang menggambarkan tidak
ada rasa takut dalam melakukan tindakan yang tidak diperlukan, karena prinsip
tersebut untuk membawa keinginan dalam mengejar kenikmatan (Siswantoro,
2005:38-39). Id memiliki dua cara dalam memenuhi keinginanya yaitu
dengan meredakkan ketegangan sehingga timbulah refleksi secara otomotis seperti
mengedipkan mata, membayangkan makanan.
Sehingga Id dapat direalisasikan dengan imajinasi menjadi suatu
kenyataan (Rokhmansyah, 2013:162).
“Nugraha,
aku nggak bisa di sini. Kota ini bukan tempatku. Ada tempat lain yang lebih bisa
menerimaku.” (hal. 380)
“Nug, aku kenal Biru. Aku yakin ketika dia
kembali dia nggak akan ke mana-mana lagi. Lagi pula aku akan ikut dia, aku akan
selalu sama dia, apa lagi yang harus dipikirkan?” (hal. 381).
Kutipan tersebut menunjukkan jika Binta
lebih memikirkan egonya untuk ikut bersama Biru, yang belum tentu bisa
bersamanya. Ia tidak mendengarkan apa yang dikatakan Nug, jika Biru menyakiti
hati Binta lagi.
Ego
memiliki sifat mementingkan dirinya sendiri dan menjamin jika lingkungan tersebut bisa menegendalikan
masalah yang dihadapi antara realita dengan masalah mengenai keinginan yang
tidak cocok antara yang satu dengan yang lain. Ego dapat dikatakan sebagai karakter
kepribadian yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan Id dan perkembangan
dalam mencapai superego (Bertens, 2006:33).
“Jangan kemana-mana, Ta, di sini aja.”
(hal. 379).
“Tapi, Ta, di sana kamu mau ngapain?”
“Dan, kalau dia nyakitin kamu lagi? Kalau
sesampainya di sana tiba-tiba ia menyuruhmu kembali pulang?” (hal. 381).
Kutipan tersebut menujukkan jika terdapat
superego, bahwa Nugraha melarang Binta untuk pergi bersama dengan Biru.
Dikarenakan Nugraha takut jika Biru menyakiti hati Binta lagi dan meninggalkannya.
“Nugraha pergi, Yo, Nugraha pergi karena
gue yang minta dia untuk pergi. Dan ketika dia ngasih kesempatan gue untuk
membatalkan keberangkatannya, gue yang menyia-nyiakannya.” (hal. 391).
Kutipan tersebut menujukkan bahwa Binta
memerintahkan Nugraha untuk pergi melanjutkan studinya di Aussie. Namun ketika
Binta lebih memilih ikut bersama dengan Biru, ia lebih tidak menuruti apa yang
dikatakan Nugraha itu benar, bahwa Biru hanya mmebohongi Binta. Jika Biru tidak
benar untuk mengajak pergi bersamanya.
Menurut
Freud (dalam buku Suryabrata, 2010: 127) superego dapat dikatakan sebagai aspek
kepribadian yang berfungsi dalam mementukan sesuatu hal yang benar atau salah,
baik atau buruk, pantas atau tidak dan lebih mengarah dalam bertindak sesuai
dengan peraturan. Superego merupakan etika kepribadian dan moral yang memiliki
prinsip dalam menuntut kesempurnaan, menghukum dengan kesalaha ego, baik yang telah dilakukan maupun belum
dilakukan. Superego lebih mengarah ke hal yang baik dalam megendalikan suatu
pemenuhannya (Alwisol, 2004:21).
KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil ulasan penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa Novel “Kata”
mengisahkan tentang cerita cinta yang cukup sederhana. Mereka hanya membutuhkan
kata untuk menjelaskan perasaan masing-masing. Justru Binta yang memiliki sikap
cuek, keras kepala dan masih mengingat masa lalunya, kini ia memiliki rasa
dengan Nugraha dan di akhir cerita Binta dan Nugraha bersatu dalam pasangan
hidup. Sedangkan Biru kembali ke kota Banda Neira untuk menemukan cinta
sejatinya. Berbagai konflik dalam Novel ini mengarah pada suatu masalah dan
bisa dipecahkan dengan sebuah kata. Nugraha hanya membutuhkan kotak kesabaran
agar Binta menerima cintanya. Berbagai situasi dan kondisi pun terjadi ketika
Binta menolong Sinta mantan dari Nugraha, yang terjadi adalah Sinta mencium
Nugraha. Sehingga membuat Binta patah hati dan menghindar dari Nugraha.
Karakter
Binta memiliki penguasaan yang begitu sulit, sebab ia lebih mementingkan
dirinya sendiri dan sebagai anak yang invisible dikarenakan Ayahnya
meninggalkan dirinya pergi untuk bersama perempuan lain sedangkan mamanya
mengalami sakit skizofrenia yang membuat mamanya sering mengamuk dan hanya duduk
di kursi roda dengan mata kosong. Semua itu dijalani Binta dengan penuh kasih
sayang dan dibantu oleh bibinya untuk merawat mamanya. Cahyo adalah teman Binta
yang super baik, Cahyo mengenalkan Binta kepada Nugraha agar mereka saling
mengenal dan Binta tidak memikirkan lagi tentang masa lalunya bersama Biru,
namun semua itu sangatlah berat sebab Binta tidak bisa membuka hati untuk
Nugraha. Dengan berjalannya waktu Binta mulai rasa dengan Nugraha, namun suatu
ketika Biru datang dan mengajak Binta untuk pergi ke kotanya. Binta menuruti
semua perintah Biru, ia pergi ke kota Banda Neira bersama Mamanya. Namun di
Bandara Biru hanya membohongi Binta, sebab Biru tau bahwa di hati Binta
bukanlah Biru melainkan Nugraha. Binta merasa tersakiti, karena Nugraha sudah pergi
ke Austarlia untuk melanjutkan studinya. Datanglah Nugraha untuk menemui Binta
dengan rasa bahagia karena keduanya menikah dan memiliki anak, sebab Nugraha
mengatakan jika sepuluh tahun lagi aku akan bersamamu. Binta berharap Biru
menemukan cinta sejatinya dari samudera luas beseeta lautan biru yang tak
pernah membuatnya sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Hikma, Nur. (2015). Analisis Psikologis
Tokoh Utama Dalam Novel Sepatu Dahlan Karya Khirsna Pabichara. Jurnal
Humanika, Vol. 3, No. 15.
Fajriyah, K., Widyatmike, G., & Alfian,
R. (2017). Keprobadian Tokoh Utama Wanita Dalam Novel Alisya Karya Muhammad
Makhdlori. Kajian Psikologi Sastra, Vol. 3, No. 1.
Safitri, Ami. (2014). Analisis
Psikologi Sastra pada Novel Amrike Kembang Api Kopi Karya Sunaryata Soemardjo.
Universitas Muhammadiyah Purworejo. Jurnal Progam Studi Pendidikan Bahasa
dan Sastra Jawa, Vol. 5, No. 2.
Syarifuddin. (2018). Kajian Struktural Dan Sosiologi Sastra Dalam Novel
Seputih Hati Yang Tercabik. Universitas PGR Palembang. Jurnal Kata, Vol.
2, No. 2.
Lisnawati, & Yunus. (2017). Analisis Tokoh Utama Dalam Novel Ashmora
Paria Karya Herlinatiens (Kajian Psikoanalisis Sigmund Frued). Jurnal Bastra,
Vol. 1, No. 4.
Nurdayana, I., & Qur'ani, H. B. (2019). Representasi Gangguan
Psikologis Tokoh Orang Pertama Dan Orang Kedua Dalam Naskah Drama
"Aljabar" Karya Zak Sorga:Telaah Psikologis Sastra. . Pena
Literasi Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia., Vol. 2, No. 2.
Setiaji, A. B. (2019). Kajian Psikologi Sastra Dalam Cerpen
"Perempuan Balian" Short Works Of Sandi Firli. Jurnal Lingue ,
Vol. 1, No. 1.
Komentar
Posting Komentar